Kretek: Kisah Rokok Cengkeh yang Lahir dari Kota Kudus
Bunyi “kretek-kretek” dari cengkeh yang terbakar memberi nama pada rokok khas Indonesia. Di baliknya ada kisah Haji Djamhari dan kota Kudus pada akhir abad ke-19.
Kretek adalah rokok yang mencampur tembakau dengan cengkeh. Namanya diambil dari bunyi "kretek-kretek" yang keluar saat cengkeh ikut terbakar. Rokok ini lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19.
Kisah yang paling sering dituturkan menyebut Haji Djamhari, seorang warga Kudus, yang menaburkan cengkeh pada tembakau dan melintingnya untuk meredakan sesak di dadanya. Ramuan itu terasa melegakan, dan kabar khasiatnya menyebar dari mulut ke mulut. Dari kebutuhan pribadi, kretek perlahan menjadi barang yang dicari.
Adalah Nitisemito yang kemudian mengubah kretek dari lintingan rumahan menjadi industri. Pada awal abad ke-20 ia membangun pabrik rokok Bal Tiga di Kudus dan memasarkannya dengan cara yang tergolong modern pada zamannya — merek dagang, iklan, hadiah, hingga armada distribusi. Ia dikenang sebagai "Raja Kretek" pertama.
Sepanjang abad ke-20, kretek tumbuh menjadi tulang punggung sebuah industri padat karya. Ribuan pekerja — banyak di antaranya perempuan pelinting — menggulung batang demi batang dengan kecepatan tangan yang mengagumkan. Kota-kota seperti Kudus, Kediri, dan Malang tumbuh bersama pabrik-pabriknya.
Kretek pun menjadi lebih dari sekadar produk. Ia melekat pada identitas budaya, menjadi penanda selera, dan menjadi bagian dari perdebatan panjang soal kesehatan, cukai, dan tenaga kerja yang berlangsung hingga hari ini.
Konten ini membahas produk tembakau dan ditujukan untuk pembaca dewasa (21 tahun ke atas). Merokok membahayakan kesehatan.
Diskusi (2)
Bagus Prasetya
2 weeks agoKudus memang kota kretek, bangga jadi orang sana.
Bagus Prasetya
2 weeks agoSejarah Nitisemito menarik banget, ada buku rekomendasi?